Senin, 20 April 2015

STUDI KASUS ANAK YANG BERMASALAH

Ulfa Mia Syahdana (BK - 2A)

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Dalam rangka perkembangan dan kehidupan setiap manusia sangat mungkin timbul berbagai permasalahan. Baik yang dialami secara individual, kelompok, dalam keluarga, lembaga tertentu atau bahkan bagian masyarakat secara lebih luas. Untuk itu ditentukan adanya bimbingan sebagai suatu usaha pemberian bantuan yang diberikan baik kepada individu maupun kelompok dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan alam memberikan bimbingan adalah memahami individu (dalam hal ini peserta didik) secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakangnya. Sehingga peserta didik diharapakan dapat memperoleh bimbingan yang tepat dan terarah.
Untuk dapat memahami peserta didik secara lebih mendalam, maka seorang pembimbing maupun konselor perlu mengumpulkan berbagai keterangan atau data tentang peserta didik yang meliputi berbagai aspek, seperti: aspek sosial kultural, perkembangan individu, perbedaan individu, adaptasi, masalah belajar dan sebagainya. Dalam rangka mencari informasi peserta didik dan tentang sebab-sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan langkah-langkah penanganan masalah tersebut maka diperlukan adanya suatu tehnik atau metode pengumpulan data atau fakta-fakta yang terkait dengan permasalahan yang ada.




B. Tujuan Observasi
1.      Untuk mengetahui masalah belajar peserta didik.
2.      Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan pribadi siswa yang dianggap mempunyai masalah belajar.
3.      Membantu peserta didik dalam menyesuaiakan diri dengan lingkungan.
4.      Membantu siswa memecahkan masalah dan mengembangkan potensi belajar siswa secara optimal.

C. Manfaat Observasi

1.      Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mempelajari, mengamati, dan mengkaji suatu permasalahan yang dihadapi anak SD.
2.      Membantu siswa yang bermasalah supaya dapat memahami kemampuan dirinya dan lingkungan dalam usaha untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.





BAB II
PEMBAHASAN

Description: IMG_0004.JPGA. Profil Anak Berperilaku Bermasalah
1.      Nama                           :  Nurul Dwi Novianti
2.      TTL                             :  Jakarta, 15 November 2007
3.      Usia                             :  8 tahun
4.      Jenis Kelamin              :  Perempuan
5.      Agama                         :  Islam
6.      Alamat                                    :  Jl. Bintara IV Rt 04/015 No. 45
   Kel. Bintara Kec. Bekasi Barat.
      7. Saudara kandung          :  3
      8. Keadaan sosial ekonomi           :  Kurang
      9. Situasi belajar di rumah :  Kurang
    10. Bahasa sehari-hari         :  Bahasa Indonesia

B. Jenis Masalah yang Dihadapi
            Nurul adalah anak dari ibu Maimunah, Nurul merupakan siswi kelas II di SDN 04 Pondok Kopi. Ia bermasalah di rumah maupun di kelasnya yaitu karena malas dan kurang motivasi untuk belajar. Selain itu Nurul merupakan anak yang pendiam di kelasnya tetapi berbeda jika sudah sampai di rumah, ia menjadi banyak bicara bahkan sempat menggunakan bahasa-bahasa kotor dalam berkomunikasi bersama teman sebayanya. Berdasarkan hasil pengamatan diperkirakan jenis masalah yang dihadapi Nurul yaitu kurangnya motivasi belajar dan perhatian orang tua.
            Dari informasi yang didapat, Nurul merupakan anak dari keluarga yang kondisi ekonominya rendah sehingga menyebabkan ayahnya harus bekerja menjual es krim keliling dan malamnya menjadi buruh kerja di sebuah pabrik. Selain itu ibunya harus mengurus kedua adiknya yang masih berumur 2 tahun sehingga kurang memperhatikan anaknya Nurul, kemudian yang menyebabkan Nurul malas juga karena faktor kemampuan Nurul yang minim (belum bisa membaca) dan minat dalam belajar tidak ada. Ini semua yang menyebabkan Nurul malas dan kurang motivasi dalam belajar.
Perilaku bermasalah yang dilakukan oleh Nurul tidak semata-mata terjadi begitu saja dengan sendirinya, ada faktor-faktor yang melatar belakanginya yaitu:
a.       Faktor dari dalam (internal) :
·         Minimnya kemampuan yang dimiliki.
·         Minat untuk belajar kurang.
·         Lemahnya kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.
·         Kurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

b.      Faktor dari luar (eksternal) :
                                 ·            Faktor Keluarga
Ayah Nurul bekerja dari pagi sampai tengah malam dan ibunya yang harus menjaga dan mengurusi kedua adiknya serta kadang membantu suaminya berjualan es krim sehingga Nurul kurang perhatian dan kasih sayang dari keluarganya.
                                 ·            Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi keluarga yang kurang baik menjai salah satu penyebab Nurul berperilaku bermasalah di sekolah, terjadi beberapa kemungkinan bisa jadi karena penghasilan dari ayah Nurul yang tidak sesuai dengan jumlah beban tanggungan daam keluarga, sehingga kebutuhan kadang tidak terpenuhi.

|  Pragnosa
Dari kasus tersebut maka Nurul sedang mengalami masalah yaitu kurang motivasi untuk belajar karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Dari rumusan, jenis, dan bentuk masalah yang sedang dihadapi Nurul, maka dibuat alternatif yaitu berupa tindakan bantuan seperti dibeerikannya motivasi yang cukup dan juga kasih sayang kepada Nurul baik orang tua, guru, teman, dan oran-orang yang ada disekitarnya. Terutama yang paling berpengaruh disini perhatian dari pihak orang tua sangat diperlukan.
C. Cara menangani
Pada kasus Nurul dengan kurangnya motivasi untuk belajar telah direncanakan untuk memberikan bantuan secara berlanjut dan individual. Pada tahap pertama, diadakan pendekatan secara pribadi terhadap Nurul yaitu dengan menanyakan terlebih dahulu seperti apa keadaan orang tuanya di rumah, bagaimana hubungan dengan orang tuanya, merangkul dan mengajak serta memberi perhatian bahkan kasih sayang yang lebih kepada Nurul sehingga ia terbuka dan mau menceritakan semua masalah yang sedang di hadapinya. Kemudian pemberian terapi ini tidak hanya dilakukan sekali bahkan harus beberapa kali dan terus berkelanjutan sampai anak keluar dari masalah terebut. Tindak lanjut untuk mengatasi masalah yang dihadapi adalah:
a.       Guru harus berkomunikasi dengan orang tua dan bekerja sama untuk melihat perkembangan Nurul selanjutnya.
b.      Orang tua harus lebih memperhatikan Nurul agar tidak lagi malas dan adanya motivasi belajar.
c.       Diberi motivasi dan dorongan agar Nurul bisa terbuka terhadap dan mudah berinteraksi dengan orang lain.


 Cara menanganinya dalam layanan Bimbingan dan Konseling :
            1. Layanan Bimbingan Belajar
Dalam teknik ini pemberian bantuan dilaksanakan dalam bentuk hubungan yang bersifat face to face yaitu antara peserta didik dengan konselor. Layanan ini yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam memecahkan masalah, dengan bantuan yang diberikan konselor terhadap peserta didik. Maka praktikan dapat mengharapkan terjadi perubahan yang terjadi pada diri peserta didik agar tidak mengulangi kembali masalah yang sudah terjadi. Maka dengan itu praktikan memberikan nasehat agar peserta didik mulai memperhatikan saat proses belajar berlangsung. Dalam konseling konselor memberikan masukan bahwa setiap manusia pasti mempunyai masalah mamun berat dan ringannya permasalahan tesebut tergantung pada diri kita sendiri. untuk menyikapinya, maka jalan yang disarankan adalah mendekatkan diri kepada tuhan agar diberikan pikiran yang jernih dan lapang, agar masalah yang dihadapinya menemukan jalan keluar dan mengganggap bahwa semua itu pasti ada hikmahnya. Selain itu sifat keterbukaan dan pikiran yang dewasa akan menyelesaikan segala persoalan.
Melalui layanan bimbingan belajar kita bisa memberikan motivasi dan dorongan untuk terus belajar kepada peserta didik. Serta memberikan bimbingan belajar (bimbel)  yang tidak hanya dilakukan sekali tetapi harus berkali-kali sampai ada kemajuan dalam hal belajar dan memantau peserta didik pada saat belajar 3 kali dalam seminggu.



            2. Layanan Konseling Individual
                        Memberikan konseling dalam proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan mengentaskan permasalahan yang dihadapinya.
3.      Kerjasama dengan Orang Tua
Kunjungan kerumah ( home visit ) dilakukan untuk mengetahui latar belakang ( background ) keluarga dan kondisi peserta didik di lingkungan rumah. Komunikasi di lakukan dengan orang tua peserta didik ( ibu ) agar peserta didik diberikan perhatian khusus dalam kaitannya dengan proses belajar dirumah. Jika dianggap perlu sebaiknya didatangkan guru privat untuk memberikan bimbingan belajar bagi peserta didik, untuk mengkordinasikan klien menjalani proses belajar di rumah, maka secara bergantian seminggu 3x praktikan memberikan bimbingan belajar. Rupanya usaha ini membuahkan hasil, dimana orang tua semakin terbuka dan menyadari akan kebutuhan anak untuk di berikan perhatian khusus dalam belajar. Selama ini orang tua hanya memerintahkan anak untuk belajar, tetapi tidak pernah di bimbing dalam belajar. Setelah proses bimbingan berjalan selama 3x pertemuan ternyata klien menujukan perubahan yang cukup positif yaitu merasa nyaman untuk menjalani proses belajar secara mandiri, pada tahap ini mulai muncul motivasi dan kesadaran belajar secara serius yang menggambarkan keinginan orisinil yang di miliki selama ini.

4. Langkah evaluasi dan follow-up
Follow up adalah usaha yang di lakukan konselor untuk mengikuti perkembangan peserta didik setelah peserta didik mengambil suatu keputusan sendiri untuk bertindak. Selain itu dalam upaya tindak lanjut konselor juga mengevaluasi keberhasilan atau tidaknya upaya bantuan yang di berikan kepada peserta didik tentang masalah pribadi, belajar dan juga sosial yang di hadapi.
Untuk mengatasi masalah pribadi peserta didik, pertama konselor dapat memberikan motivasi dan support kepada klien agar klien lebih termotivasi sehingga percaya dirinya bisa tumbuh. Kedua, Memberikan pengertian bahwa semua permasalahan itu pasti ada hikmahnya dan agar berusaha bersabar dalam menjalani hidupnya dan jangan lupa selalu berdo’a kepada tuhan yang maha kuasa.
Sedangkan untuk mengatasi masalah dalam belajarnya, konselor bisa membantu membuat jadwal secara terinci yang bersifat rutinitas yang nantinya akan membantu peserta didik untuk lebih bisa memanfaatkan waktu belajar sebaik mungkin. Serta lebih sering menunjukan peserta didik untuk aktif dan fokus dalam mengikuti pelajaran di kelas, seperti menunjukan klien ke depan kelas untuk mengerjakan soal atau menjawab soal.



                       









BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bimbingan pada hakikatnya merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan bersifat psikologis. Tercapainya penyesuain diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.
Dari pengamatan yang dilakukan oleh konselor, dengan menggunakan metode observasi dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang bernama Nurul Dwi Novianti mengalami permasalahan berikut:
1.         Prestasi belajar menurun.
2.         Nilai tugas, ulangan, dan ujian rendah.
3.         Peringkat dibawah rata-rata, dan sebagainya.
4.         Sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.

B.     Saran
Usaha pemberian bantuan kepada peserta didik dalam memcahkan masalah menuju perkembangan yang optimal. Perlu kerjasama semua pihak diantaranya, orang tua, walikelas, teman-teman Nurul, dan peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu konselor perlu memberi masukan kepada peserta didik antara lain:
a.       Untuk lebih berusaha dan semangat dalam belajar agar tidak
       ketinggalan dengan teman-temannya.
b.      Untuk lebih terbuka dengan teman, orang tua,wali kelas untuk
                   mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi.

c.       Hendaknya menjalin hubungan pertemanan yang baik denga teman-
       teman sekelas, menjalin hubungan baik dengan guru mata pelajaran
       untuk memperlancar komunikasi dan jangan pernah takut atau malu
       untuk bertanya tentang apapun kepada guru tentang apa saja yang
       belum mengerti.
                        Untuk kedua orang tua Nurul antara lain:
1)      Memberikan perhatian khusus dalam pergaulannya saat dirumah.
2)      Memberikan bimbingan belajar kepada anak saat dirumah.
3)      Memenuhi kebutuhan anak yang menunjang proses belajarnya.
4)      Memberikan motivasi dan intensif yang diperlukan anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar