Ulfa Mia Syahdana (BK - 2A)
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam rangka
perkembangan dan kehidupan setiap manusia sangat mungkin timbul berbagai
permasalahan. Baik yang dialami secara individual, kelompok, dalam keluarga,
lembaga tertentu atau bahkan bagian masyarakat secara lebih luas. Untuk itu
ditentukan adanya bimbingan sebagai suatu usaha pemberian bantuan yang
diberikan baik kepada individu maupun kelompok dalam rangka memecahkan masalah
yang dihadapi. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan alam memberikan
bimbingan adalah memahami individu (dalam hal ini peserta didik) secara
keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakangnya. Sehingga
peserta didik diharapakan dapat memperoleh bimbingan yang tepat dan terarah.
Untuk dapat memahami peserta didik secara lebih
mendalam, maka seorang pembimbing maupun konselor perlu mengumpulkan berbagai
keterangan atau data tentang peserta didik yang meliputi berbagai aspek,
seperti: aspek sosial kultural, perkembangan individu, perbedaan individu,
adaptasi, masalah belajar dan sebagainya. Dalam rangka mencari informasi
peserta didik dan tentang sebab-sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan
langkah-langkah penanganan masalah tersebut maka diperlukan adanya suatu tehnik
atau metode pengumpulan data atau fakta-fakta yang terkait dengan permasalahan
yang ada.
B.
Tujuan Observasi
1.
Untuk mengetahui masalah belajar peserta
didik.
2.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas
tentang keadaan pribadi siswa yang dianggap mempunyai masalah belajar.
3.
Membantu peserta didik dalam menyesuaiakan diri dengan
lingkungan.
4.
Membantu siswa memecahkan masalah dan mengembangkan
potensi belajar siswa secara optimal.
C. Manfaat
Observasi
1.
Memberikan
kesempatan kepada penulis untuk mempelajari, mengamati, dan mengkaji suatu permasalahan yang dihadapi
anak SD.
2.
Membantu siswa yang bermasalah supaya dapat memahami kemampuan
dirinya dan lingkungan dalam usaha untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Profil Anak Berperilaku
Bermasalah
1.
Nama : Nurul Dwi Novianti
2.
TTL : Jakarta, 15 November 2007
3.
Usia : 8 tahun
4.
Jenis Kelamin : Perempuan
5.
Agama : Islam
6.
Alamat : Jl. Bintara IV Rt 04/015 No. 45
Kel. Bintara Kec. Bekasi Barat.
7. Saudara kandung : 3
8. Keadaan sosial ekonomi :
Kurang
9. Situasi belajar di rumah : Kurang
10. Bahasa sehari-hari :
Bahasa Indonesia
B.
Jenis Masalah yang Dihadapi
Nurul adalah anak dari ibu
Maimunah, Nurul merupakan siswi kelas II di SDN 04 Pondok Kopi. Ia bermasalah
di rumah maupun di kelasnya yaitu karena malas dan kurang motivasi untuk
belajar. Selain itu Nurul merupakan anak yang pendiam di kelasnya tetapi
berbeda jika sudah sampai di rumah, ia menjadi banyak bicara bahkan sempat
menggunakan bahasa-bahasa kotor dalam berkomunikasi bersama teman sebayanya.
Berdasarkan hasil pengamatan diperkirakan jenis masalah yang dihadapi Nurul
yaitu kurangnya motivasi belajar dan perhatian orang tua.
Dari informasi yang didapat, Nurul
merupakan anak dari keluarga yang kondisi ekonominya rendah sehingga
menyebabkan ayahnya harus bekerja menjual es krim keliling dan malamnya menjadi
buruh kerja di sebuah pabrik. Selain itu ibunya harus mengurus kedua adiknya
yang masih berumur 2 tahun sehingga kurang memperhatikan anaknya Nurul,
kemudian yang menyebabkan Nurul malas juga karena faktor kemampuan Nurul yang
minim (belum bisa membaca) dan minat dalam belajar tidak ada. Ini semua yang
menyebabkan Nurul malas dan kurang motivasi dalam belajar.
Perilaku bermasalah yang dilakukan oleh
Nurul tidak semata-mata terjadi begitu saja dengan sendirinya, ada faktor-faktor
yang melatar belakanginya yaitu:
a.
Faktor dari dalam (internal) :
·
Minimnya kemampuan yang dimiliki.
·
Minat untuk belajar kurang.
·
Lemahnya kemampuan untuk berinteraksi
dengan orang lain.
·
Kurangnya kemampuan untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungannya.
b. Faktor
dari luar (eksternal) :
·
Faktor Keluarga
Ayah
Nurul bekerja dari pagi sampai tengah malam dan ibunya yang harus menjaga dan
mengurusi kedua adiknya serta kadang membantu suaminya berjualan es krim
sehingga Nurul kurang perhatian dan kasih sayang dari keluarganya.
·
Keadaan Ekonomi
Keadaan
ekonomi keluarga yang kurang baik menjai salah satu penyebab Nurul berperilaku
bermasalah di sekolah, terjadi beberapa kemungkinan bisa jadi karena
penghasilan dari ayah Nurul yang tidak sesuai dengan jumlah beban tanggungan
daam keluarga, sehingga kebutuhan kadang tidak terpenuhi.
| Pragnosa
Dari kasus
tersebut maka Nurul sedang mengalami masalah yaitu kurang motivasi untuk
belajar karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Dari
rumusan, jenis, dan bentuk masalah yang sedang dihadapi Nurul, maka dibuat
alternatif yaitu berupa tindakan bantuan seperti dibeerikannya motivasi yang
cukup dan juga kasih sayang kepada Nurul baik orang tua, guru, teman, dan
oran-orang yang ada disekitarnya. Terutama yang paling berpengaruh disini
perhatian dari pihak orang tua sangat diperlukan.
C.
Cara menangani
Pada kasus Nurul dengan kurangnya
motivasi untuk belajar telah direncanakan untuk memberikan bantuan secara
berlanjut dan individual. Pada tahap pertama, diadakan pendekatan secara
pribadi terhadap Nurul yaitu dengan menanyakan terlebih dahulu seperti apa
keadaan orang tuanya di rumah, bagaimana hubungan dengan orang tuanya,
merangkul dan mengajak serta memberi perhatian bahkan kasih sayang yang lebih
kepada Nurul sehingga ia terbuka dan mau menceritakan semua masalah yang sedang
di hadapinya. Kemudian pemberian terapi ini tidak hanya dilakukan sekali bahkan
harus beberapa kali dan terus berkelanjutan sampai anak keluar dari masalah
terebut. Tindak lanjut untuk mengatasi masalah yang dihadapi adalah:
a. Guru
harus berkomunikasi dengan orang tua dan bekerja sama untuk melihat perkembangan Nurul
selanjutnya.
b. Orang
tua harus lebih memperhatikan Nurul agar tidak lagi malas dan adanya motivasi
belajar.
c. Diberi
motivasi dan dorongan agar Nurul bisa terbuka terhadap dan mudah berinteraksi dengan orang
lain.
Cara menanganinya dalam
layanan Bimbingan dan Konseling :
1.
Layanan Bimbingan Belajar
Dalam teknik ini pemberian bantuan dilaksanakan dalam bentuk hubungan yang
bersifat face to face yaitu antara peserta didik dengan konselor. Layanan ini
yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam memecahkan masalah, dengan bantuan
yang diberikan konselor terhadap peserta didik. Maka praktikan dapat
mengharapkan terjadi perubahan yang terjadi pada diri peserta didik agar tidak
mengulangi kembali masalah yang sudah terjadi. Maka dengan itu praktikan
memberikan nasehat agar peserta didik mulai memperhatikan saat proses belajar
berlangsung. Dalam konseling konselor memberikan masukan bahwa setiap manusia
pasti mempunyai masalah mamun berat dan ringannya permasalahan tesebut
tergantung pada diri kita sendiri. untuk menyikapinya, maka jalan yang
disarankan adalah mendekatkan diri kepada tuhan agar diberikan pikiran yang
jernih dan lapang, agar masalah yang dihadapinya menemukan jalan keluar dan
mengganggap bahwa semua itu pasti ada hikmahnya. Selain itu sifat keterbukaan
dan pikiran yang dewasa akan menyelesaikan segala persoalan.
Melalui layanan bimbingan belajar kita
bisa memberikan motivasi dan dorongan untuk terus belajar kepada peserta didik.
Serta memberikan bimbingan belajar (bimbel) yang tidak hanya dilakukan sekali tetapi harus
berkali-kali sampai ada kemajuan dalam hal belajar dan memantau peserta didik
pada saat belajar 3 kali dalam seminggu.
2.
Layanan Konseling Individual
Memberikan konseling
dalam proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi untuk mengetahui
perkembangan peserta didik dan mengentaskan permasalahan yang dihadapinya.
3.
Kerjasama dengan Orang Tua
Kunjungan kerumah ( home visit ) dilakukan untuk mengetahui latar belakang
( background ) keluarga dan kondisi peserta didik di lingkungan rumah.
Komunikasi di lakukan dengan orang tua peserta didik ( ibu ) agar peserta didik
diberikan perhatian khusus dalam kaitannya dengan proses belajar dirumah. Jika
dianggap perlu sebaiknya didatangkan guru privat untuk memberikan bimbingan
belajar bagi peserta didik, untuk mengkordinasikan klien menjalani proses
belajar di rumah, maka secara bergantian seminggu 3x praktikan memberikan
bimbingan belajar. Rupanya usaha ini membuahkan hasil, dimana orang tua semakin
terbuka dan menyadari akan kebutuhan anak untuk di berikan perhatian khusus
dalam belajar. Selama ini orang tua hanya memerintahkan anak untuk belajar,
tetapi tidak pernah di bimbing dalam belajar. Setelah proses bimbingan berjalan
selama 3x pertemuan ternyata klien menujukan perubahan yang cukup positif yaitu
merasa nyaman untuk menjalani proses belajar secara mandiri, pada tahap ini
mulai muncul motivasi dan kesadaran belajar secara serius yang menggambarkan keinginan
orisinil yang di miliki selama ini.
4. Langkah
evaluasi dan follow-up
Follow up adalah usaha yang di lakukan konselor untuk mengikuti
perkembangan peserta didik setelah peserta didik mengambil suatu keputusan
sendiri untuk bertindak. Selain itu dalam upaya tindak lanjut konselor juga
mengevaluasi keberhasilan atau tidaknya upaya bantuan yang di berikan kepada
peserta didik tentang masalah pribadi, belajar dan juga sosial yang di hadapi.
Untuk mengatasi masalah pribadi peserta didik, pertama konselor dapat
memberikan motivasi dan support kepada klien agar klien lebih termotivasi
sehingga percaya dirinya bisa tumbuh. Kedua, Memberikan pengertian bahwa semua
permasalahan itu pasti ada hikmahnya dan agar berusaha bersabar dalam menjalani
hidupnya dan jangan lupa selalu berdo’a kepada tuhan yang maha kuasa.
Sedangkan untuk mengatasi masalah dalam belajarnya, konselor bisa membantu
membuat jadwal secara terinci yang bersifat rutinitas yang nantinya akan
membantu peserta didik untuk lebih bisa memanfaatkan waktu belajar sebaik
mungkin. Serta lebih sering menunjukan peserta didik untuk aktif dan fokus
dalam mengikuti pelajaran di kelas, seperti menunjukan klien ke depan kelas
untuk mengerjakan soal atau menjawab soal.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bimbingan pada hakikatnya merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada
individu atau peserta didik. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan bersifat
psikologis. Tercapainya penyesuain diri, perkembangan optimal dan kemandirian
merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.
Dari pengamatan yang dilakukan oleh konselor, dengan menggunakan metode
observasi dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang bernama
Nurul Dwi Novianti mengalami permasalahan berikut:
1. Prestasi
belajar menurun.
2. Nilai tugas,
ulangan, dan ujian rendah.
3. Peringkat
dibawah rata-rata, dan sebagainya.
4. Sulit untuk
berinteraksi dengan orang lain.
B. Saran
Usaha pemberian bantuan kepada peserta didik dalam memcahkan masalah menuju
perkembangan yang optimal. Perlu kerjasama semua pihak diantaranya, orang tua,
walikelas, teman-teman Nurul, dan peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu konselor
perlu memberi masukan kepada peserta didik antara lain:
a.
Untuk lebih
berusaha dan semangat dalam belajar agar tidak
ketinggalan dengan teman-temannya.
b. Untuk lebih
terbuka dengan teman, orang tua,wali kelas untuk
mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi.
c.
Hendaknya
menjalin hubungan pertemanan yang baik denga teman-
teman sekelas, menjalin hubungan baik dengan
guru mata pelajaran
untuk memperlancar komunikasi
dan jangan pernah takut atau malu
untuk bertanya tentang apapun kepada
guru tentang apa saja yang
belum mengerti.
Untuk
kedua orang tua Nurul antara lain:
1)
Memberikan perhatian khusus dalam pergaulannya saat
dirumah.
2)
Memberikan bimbingan belajar kepada anak saat dirumah.
3)
Memenuhi kebutuhan anak yang menunjang proses
belajarnya.
4)
Memberikan motivasi dan intensif yang diperlukan anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar